Sabtu, 21 Juni 2014

METODE HISTORIS

Penelitian Historis (Historical Research)
Penelitian histories adalah penelitian yang mengaplikasikan metode pemecahan ilmiah dari perspektif histories suatu masalah. Dapat diartikan juga sebagai proes pengumpulan dan penafsiran data (berupa benda, peristiwa, atau tulisan) yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami kenyataan-kenyataan sejarah masa lampau, situasi sekarang, dan meramalkan perkembangan situasi yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan atau generalisasi yang kuat.
Penelitian ini mempunyai ciri-ciri tertentu, diantaranya sebagai berikut:
a. Data yang dikumpulkan tidak hanya primer (yang diperoleh dari sumber primer, yaitu hasil observasi, atau wawancara peneliti sendiri) tetapi juga sekunder (diperoleh dari sumber sekunder, yaitu hasil observasi orang lain).
b. Untuk menentukan bobot data, dilakukan dua macam kritik, yaitu (1) eksternal: meneliti keaslian atau authenticity data, dan (2) internal: meneliti keakuratan atau kebenaran data. Kritik internal ini menguji motif, kejujuran dan keterbatasan si penulis yang mungkin melebih-lebihkan, mengurangi,atau memalsukan data.
Contoh : Penelitian mengenai rusaknya candi sewu di Prambanan


Sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=685423244819716&id=365219920173385

METODE DESKRIPTIF

Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti setatus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistempeikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Ciri-ciri Metode Deskriptif

Secara harfiyah, metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Namun, dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama, metode survei. Kerja peneliti, bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis, membut predeksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dalam mengumpulkan data digunakan teknik wawancara, dengan mengunakan schedule questionair ataupun interview guide.

Jenis-jenis Penelitian Deskriptif
Dtinjau dari jenis masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam menliti, serta tempat dan waktu penelitian dilakukan, penelitian desekriptif dapat dibagi atas bebeprapa jenis yaitu:
1. Metode survey,
2. Metode deskriptif  berkesinanbungan (Continuity deskrptive),
3. Penelitian Studi kasus,
4. Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas,
5. Penelitian tindakan (action research),

6. Penelitian perpustakaan dan documenter.

Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id/muttaqin/2010/11/28/10/

METODE VERIFIKASI

Penelitian yang bermaksud mengulangi penelitian dengan maslah dan obyek yang sama, dengan tujuan mengoreksi penelitian sebelumnya.
Terdapat dua jenis verifikasi yaitu:[rujukan]
1. Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara meyakinkan
2. Verifikasi dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk menerima pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai pernyataan yang mengandung maknasejarah (masa lampau) dan ramalan masa depan sebagai pernyataan yang mengandung makna 


Penelitian verifikatif (verificative research) adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau hasil penelitian sebelumnya, sehingga diperoleh hasil yang memperkuat atau menggugurkan teori atau hasil penelitian sebelumnya. Misalnya, penelitian untuk menguji teori konflik milik Ralp Dahrendorf.



Sumber: https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20120724093208AAKWPsQ

Jumat, 20 Juni 2014

Metode Spiral

Metodologi pengembangan spiral adalah penggabungan antara metodologi waterfall dan metodologi prototype dengan upaya memadukan keunggulan diantara keduanya. Metodologi ini ditujukan untuk proyek yang besar, mahal dan rumit.


Didefinisikan pertama kali oleh Barry Boehm pada artikelnya “A Spiral Model of Software Development and Enhancement” di tahun 1986. Model ini memiliki tahap-tahap umum sebagai berikut:

1. Determine objective atau penentuan tujuan,
            kebutuhan sistem dijelaskan sedetil mungkin.
2. Identify and resolve risk,
            mengidentifikasi dan memecahkan masalah, proses desain sistem, merupakan tahap paling penting dalam model ini, karena merupakan permulaan dan penanganan masalah secara menyeluruh sehingga dapat menghemat biaya pengembangan.
3. Development and test,
            pengembangan dan pengujian purwa-rupa sistem.
4. Plan the next iteration,
            perencanaan pengulangan tahap untuk memperbaiki purwa-rupa yang telah dibuat hingga menjadi sistem yang siap pakai dan sesuai kebutuhan.


Perbedaan metode spiral dengan metode yang lain adalah meptde ini membuat analisis resiko semakin baik sehingga dapat menekan potensi kesalahan dalam sistem dan kesalahan pada saat pengembangannya.

METODE WATERFALL

Metode Waterfall adalah suatu proses pengembangan perangkat lunak berurutan, di mana kemajuan dipandang sebagai terus mengalir ke bawah (seperti air terjun) melewati fase-fase perencanaan, pemodelan, implementasi (konstruksi), dan pengujian.(Pressman, Roger S. 2001):


Tahapan Metode Waterfall

Tahap-tahap dalam menggunakan metode waterfall yaitu:
1. Requirement (analisis kebutuhan),
2. Design sistem (system design),
3. Coding & Testing,
4. Penerapan Program,
5. Pemeliharaan.

    Requirement (analisis kebutuhan).
        Dalam langakah ini merupakan analisa terhadap kebutuhan sistem. Pengumpulan data dalam tahap ini bisa melakukan sebuah penelitian, wawancara atau study literatur.

Design System (design sistem)
          Proses design akan menterjemahkan syarat kebutuhan kesebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuat koding. Proses ini berfokus pada : struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural.

Coding & Testing (penulisan sinkode program / implemention)
        Coding merupakan penerjemahan design dalam bahasa yang bisa dikenali oleh komputer.

Penerapan / Pengujian Program (Integration & Testing)
        Tahapan ini bisa dikatakan final dalam pembuatan  sebuah sistem.

Pemeliharaan (Operation & Maintenance)
        Perangkat lunak yang susah disampaikan kepada pelanggan pasti akan mengalami perubahan.

Manfaat dari metode ini adalah metode ini merupakan jenis model yang bersifat dokumen lengkap, sehingga proses pemeliharaan dapat dilakukan dengan mudah.


sumber: http://mbahsecond.blogspot.com/2013/10/metodologi-pengembangan-waterfall.html